CURAHAN HATI VOLUNTEER SP GORONTALO YANG MENGIKUTI SPOA#5 (SAHABAT PULAU ON ACTIONPART 5) DI PALU

Oleh Kak Awir

Saya perkenalkan seorang kawan dari Gorontalo yang ingin menambah pengalaman sosial dan membangun atensinya pada kemajuan pendidikan anak bangsa. Dia datang bersama salah satu kawan yang juga punya niat sama. Satu harapan dari perjalanan ini adalah mereka juga bisa melakukan hal yang sama di tempat mereka tinggal, Gorontalo. Mereka adalah Lutfi dan Uyo.

Kedua teman itu, akhirnya memutuskan untuk pergi setelah terhasut oleh salah dua kawan Sahabat Pulau Palu yang pulang kampong. Kita mulai ceritanya sesuai runut moment yang dilewati oleh Lutfi. Ini kisah tentang perkenalan Lutfi dan komunitas Sahabat Pulau Palu (SP Palu).

Di tahun 2018 ini, kegiatan SPOA (Sahabat Pulau on Action) diadakan di desa Labean, kecamatan Balaesang, kabupaten Donggala, provinsi Sulawesi Tengah. Desa ini merupakan satu dari sekian banyak daerah terdampak bencana tanggal 28 Oktober silam. Setelah mendapat laporan bahwa dusun terjauh dari desa tersebut sangat jarang tersentuh bantuan, maka kami pun memutuskan untuk mendatanginya.

Persiapan belanja tanggal 26-siang.

Persiapan ini adalah awal dari pertemuan Lutfi dengan teman-teman SP Palu. “Sebelum bertemu dengan mereka, saya sempat bingung akan seperti apa rasanya beriteraksi dengan orang-orang aktif seperti kakak Dian, Harun, Mardha dan kakak ketua panitia, Arif.” ucap dia.

Nampak dari gesture tubuhnya saat diajak ikut belanja persiapan SPOA, Lutfi hanya duduk diam di belakang supir sembari memikirkan pola interaksi yang akan dibangun. “Saya takut mereka sungkan dengan saya, atau bahkan tidak bsa nyaman dengan saya” tambah dia membatin.

Ternyata suasana itu berbeda dari yang dia bayangkan. Tidak perlu banyak penyesuaian, seketika Lutfi akrab dengan mereka dan mulai bersenda gurau sembari mempersiapkan bahan-bahan apa yang diperlukan.

Persiapan packing donasi tanggal 27-malam.

Tepat malam hari sebelum berangkat, Lutfi bertemu dengan anggota SP Palu yang lainya. Singkat mereka berkenalan dan langsung akrab. Canda tawa pecah di kantor Sahabat Pulau. Mulailah kami sama-sama mempersiapkan untuk pemberangkatan besok sekaligus saling mengenal karakter.

Persiapan keberangkatan tanggal 28-pagi.

Bangun pagi-pagi buta adalah satu tantangan buat Lutfi. “Sungguh saya susah bangun sepagi itu, tapi saya puas bisa lebih semangat dari hari sebelumnya. Mungkin karena hari itu adalah start di kegiatan pertama saya bersama Sahabat Pulau Palu.”

Hari pemberangkatan itu, Lutfi tak perlu banyak persiapan. Setelah menikmati secangkir kopi dan obrolan ringan dan tentu tanpa harus mandi dan cukup sikat gigi saja, dia berangkat menggunakan kendaraan truk. Baginya transportasi truk hal biasa yang sering digunakan, dan yang lebih menyenangkan bisa bertemu dengan orang-orang baru.

Kegiatan SPOA#5 ini juga diikuti oleh kak Isra, Direktur Eksekutif Sahabat Pulau. Seperti biasanya, kak Isra selalu memulai keriuhan di perjalanan. Banyak hal-hal baru yang ia lakukan selama perjalanan, dan ada games yang buat kami tetap riang. “Pegiat sosial yang saya pun terkagum meski baru bertemu. Dengan logat bicara yang menurut saya aneh membuat perjalanan kami mengesankan. Sekitar 3 jam kita panas-panasan di truk, banyak hal-hal unik dan seru kita alami bersama, jadi satu cerita untuk masing-masing dari kita, serambi saling kenal mengenal masing-masing watak mereka.” tambah Lutfi.

Persiapan makan malam tanggal 28- malam.

Lapar, dahaga, capek, bercampur aduk. Setibanya di lokasi, masing-masing dari kita mulai memanjakan diri, tertawa, tertidur, kesana-kemari, berkeluh kesah, buat kopi, dan masih banyak lagi yang mereka lakukan. Beberapa perwakilan bertemu dengan Ibrahim Sembilan, nama yang sangat unik menurut saya. Karna penasaran saya bertanya “kenapa Sembilan?” dengan senyum setengah tawa, kedua tangannya diangkat sambil berkata “coba hitung?” serentak suasana tawa menghiasi awal pertemuanku dengannya. Di sela-sela canda tawa itu sebagian dari kami mempersiapkan makan malam.

Breefing untuk agenda tanggal 29-pagi.

Setelah melewati perjalanan dan makan malam, kami siap untuk agenda rapat persiapan besok. Kami berkumpul di ruang tengah sisi rumah. Kakak Arif mulai membuka rapat. Semua handphone dikumpul di tengah-tengah lingkaran kami agar fokus. Itu lucu, sebab saya baru mengalaminya.

Dengan singkat semua telah dibahas, kordinasi dengan beberapa warga selesai, mulailah kami menyibukkan diri masing-masing untuk istirahat. Sebagian dari kami ada yang bermain game (bukan gadget,karna jaringan susah), ngopi, tidur, mandi, dan masih banyak lagi. Sementara Lutfi mendirikan tenda, berbagi kisah hidup sekaligus menambah referensi perjalanan selanjutnya.

Malam itu ditemani cahaya senter di antara tenda tenda, saya ditemani kak Uyok, kak Isra, kak Awir dan kak Ardi, mereka bercerita pengalaman perjalanan hidup yang membuat saya banyak terhenyak. Kisah volunteerisme yang mengantar imajinasiku seperti menjadi hero. Tapi memang kerja relawan butuh energi yang lebih banyak agar dapat bertahan dalam banyak tantangan. Hari semakin larut, di sekitar tenda embun sudah memenuhi setiap sisi. Dingin, dan kami mengambil posisi untuk istirahat.

Agenda di pesisir muara dusun 8.

Bangun pagi kali ini, seperti bangun pagi satu hari sebelumnya. Meski hanya tidur sebentar saya tetap dapat menikmati suasana subuh. Berhadapan dengan orang banyak terutama orang-orang baru dalam kegiatan bukan hal baru lagi buat saya. Pagi itu agenda Edu-Sport Warrior (ESW) kami buat di muara. Puluhan anak-anak antusias dengan kegiatan berisikan games seru itu. Fajar adalah salah satu di antara banyak anak-anak yang saya temani bermain. Dia nampak ceria meski saya sadari dalam situasi pasca bencana, merekalah yang paling terdampak secara emosional.

Mendekati siang, beberapa relawan Sahabat Pulau kembali ke basecamp untuk istirahat dan mempersiapkan agenda pemeriksaan kesehatan gratis bersama warga dusun 8 yang bermukim di sebelah barat muara. Untuk menuju ke sana, kami harus menyebrangi muara yang sedalam dada orang dewasa. Bila air pasang akan sangat sulit menyebranginya tanpa perahu atau sampan.

Kami dibantu oleh anak-anak yang tinggal di sebrang. Ada dua atau tiga perahu yang siap mengangkut kami menuju ke sebrang. Ini pengalaman yang menyenangkan tentu. Warga dusun delapan juga senang karena ada pemeriksaan gratis. “Kami berterimakasih adik-adik sudah mampir ke sini. Saya sudah lama tidak memeriksakan kesehatan saya karena terhambat biaya. Saya sudah hidup sendiri dan sulit untuk mendapatkan perawatan kesehatan” ucap Kinilawaja, kakek usia 72 tahun.

ESW pagi. Jam 3 sore pemeriksaan gratis. Dongeng dengan anak-anak di masjid.

Setelah bermain bersama anak-anak, mandi-mandi di muara, dan makan siang, ingin sekali saya menikmati tidur siang di basecamp. Baru saja akan beranjak, tiba-tiba seseorang mengingatkan saya agenda kelas dongeng. Hampir saja saya melewati agenda ini.

Saya mendapati Kaka April sedang asik memberikan dongeng ke anak anak. Bagi saya dongengnya biasa saja, karena itu dongeng untuk anak-anak. Tapi yang tidak biasanya mereka terlihat begitu ceria dan memberi efek bahagia pula buat saya. Panjang dongeng ini membuat bahagia mereka semakin awet.

Sore sebentar lagi tiba, anak-anak masih asik dengan dongeng. Mereka seperti tidak ingin beranjak dari sana. Kakak April punya kemampuan baik menyihir anak-anak terhibur dengan ceritanya. Saya kira memang semua relawan Sahabat Pulau memiliki kemampuan baik berinteraksi dengan anak-anak, menjadi pendengar yang baik agar mampu membantu anak-anak menyusun masa depannya.

Agenda sharing komunitas oleh Direktur Eksekutif SP, kak Isra. 29 malam.

Seperti apakah kegiatan ini, mari ikuti alurnya. Malam ini adalah sesi antara sesama relawan yang tak boleh dilewatkan. Direktur eksekutif Sahabat Pulau langsung mengambil alih sesi ini, dia memimpin dengan baik obrolan sharing komunitas . Banyak pesan dan strategi yang dibagikan buat kami agar dapat bersinergi dalam program kinerja Sahabat Pulau.

Dalam sesi ini, kami dibagi per kelompok. Setiap kelompok diberi alat tulis dan kertas karton untuk menggambarkan bentuk masa depan komunitas Sahabat Pulau. Di sana, segala harapan ke depan untuk Sahabat Pulau tersirat lewat gambar yang disajikan setiap kelompok. Satu kelompok diawaki lima orang. Masing-masing dari lima orang melukiskan sesuatu di atas karton yang ada. Giliran saya, titik titik berpola serupa segitiga menambah isi karton itu. dan menurut saya itu adalah kumpulan semangat yang dipersatukan oleh gerakan yang sama. Sungguh menyenangkan.

Agenda di pesisir dan masjid di dusun 8. Tanggal 30 pagi.
Pertemuan singkat dengan harapan panjang menjadi bagian akhir dari catatan ini. Lutfi merasa semua hal yang dia peroleh adalah semangat baru untuk memulai sesuatu di kampong halamannya. Pagi itu, agendanya adalah senam bersama anak-anak dan warga di dusun delapan. Di pagi yang cerah itu, anak-anak riang dengan senam poco-poco. Teman-teman relawan pun ikut bahagia.

Agenda kami lanjutkan dengan bersih bersih di pesisir pantai dusun delapan dengan pembagian kelompok bersama anak-anak. Setiap kelompok didampingi dua sampai tiga orang relawan sahabat pulau. Tugas kakak kakak itu memperkenalkan lingkungan pesisir dari bahaya sampah plastik yang memenuhi pantai. Mengajari anak-anak berpuisi, menyusun lagu yang membangkitkan semangat dan masih banyak lagi.

Siang hamper tiba, semua dari relawan dan anak-anak mulai lapar. Kami mendekati kelompok relawan Sahabat Pulau yang bertugas mendampingi ibu-ibu untuk membuat makan siang. Seperti sebuah kompetisi kecil-kecilan. Sebelum makan ada pementasan anak-anak yang telah dibagi kelompok. Ada yang menyanyi, berpuisi, teatrikal, drama, dan pantomim. Tapi Lutfi tidak menjadi bagian dari agenda itu, dia mendapat tugas jaga basecamp. Sayang sekali, kegembiraan itu hanya bisa dia nikmati dalam bentuk cerita.

“Rasa ingin tetap tinggal di daerah itu sangat besar. Membantu anak-anak agar selalu semangat belajar dan meraih masa depan adalah pekerjaan menyenagkan buat saya”. Tapi perpisahan akan tetap hadir. Ratapan harap dari masyarakat desa Labean membuat tawa kami berganti seduh sedan dalam pelukan. Selamat jalan dan sampai jumpa lagi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar